Playlist

Kamis, 09 Agustus 2012

K A R Y A K U

C E R P E N

Di Depan Warung Tua


Matahari pagi mendatangkan indahnya hari ini, aku pun telah bersiap menyambut hari ini dengan senyuman untuk melangkah menuju kampus, berjumpa dengan temanku dan menggapai suksesku kelak ...
Sinar matahari menghangatkan tubuhku dan mengantarkan aku berangkat menuju tempatku menimba ilmu. Aku telah sampai, berjumpa dengan teman-temanku, penyemangatku, Untuk aku menggapai masa depanku.

Tak lama berselang, waktu ku dikampus telah habis, aku yang merasa lapar mendahului teman-temanku menuju "Warung tua", itu sebutan yang aku dan teman-temanku buat untuk tempat makan dekat kampus. Disanalah biasanya aku dan teman-teman singgah untuk memuaskan rasa lapar yang melanda dan sekedar bercanda, tertawa sudah menjadi runtin bagi aku dan teman-teman saat berada disana. Selesai memuaskan diri dari rasa lapar, bersenda gurau, tertawa ria yang menggelitik tubuhku, aku pun menuju kedepan warung tua.

Saat aku menikmati sapaan angin yang menyejukkan, sesosok lelaki berkaca mata, tampan nan gagah menyambutku dengan senyuman yang mengindahkanku didepan warung tua, aku yang terpanah hanya bisa terpaku melihatnya tanpa membalas senyumnya. Tersadar dengan tamparan suara dari temanku yang memanggil namaku berulang kali, dan aku langsung bergegas pulang.
Harap ku ... Bisa bertemu lagi dengan nya, lalu lelaki berkaca mata itu memberikan tangannya kepada ku untuk memintaku berkenalan dengan nya.

Hari esok pun tiba, sinar matahari masih setia menghampiriku dengan hangatnya dan mengantarkan ku menuju tempat peraduan ku mencari ilmu ...
Saat pulang dari kampus kini menjadi hal menyenangkan untukku, aku yang dirasukin rasa bahagia langsung membawa diriku menuju warung tua bukan untuk memuaskan rasa lapar, melainkan hanya sekedar untuk bertemu lagi dengan lelaki berkaca mata didepan warung tua dan berkenalan dengan nya, itu harap ku.

Lama ku menunggu, angin dingin pun mulai menerpa tubuhku namun lelaki berkaca mata itu tak datang dalam penglihatan ku.
Aku yang selalu berharap bertemu lagi dengan lelaki berkaca mata itu didepan warung tua mulai mengisi kepalaku dengan pikiran kecewaku ''Apakah kemarin adalah pertemuan pertama dan terakhir ku dengan nya ?.''
Tak bisa menyangkal, aku sangat ingin lelaki berkaca mata itu memberikan tangannya untukku didepan warung tua saat bertemu kembali, namun mungkin itu hanya angan yang melintas dalam khayalku ...

Lama berlalu, aku pun mulai bisa melupakan harapanku untuk bertemu dengannya dan menjalani hari seperti biasa. Langit sedang tak bersahabat dengan ku siang itu, hujan deras mengguyur ku saat aku berada didepan warung tua, aku yang ditinggal sendiri didepan warung tua oleh teman-temanku, mulai merasa bosan menunggu hujan yang tak kunjung berhenti ...
Aku yang hanya bermain dengan ponselku dan tak menyadari seseorang yang datang lalu duduk disebelah ku. Seseorang itu mulai melontarkan perkataan agar aku dengannya saling bercakap, aku yang masih belum mengetahui siapa yang sedang bercakap dengan ku, tanpa ragu aku menolehkan pandanganku kearahnya.

Sungguh tak ku duga dan aku terkejut sangat senang ketika ku tahu seseorang yang bercakap dengan ku sejak tadi adalah lelaki berkaca mata yang selama ini ku harap bisa bertemu kembali. Perasaan bosan ku pergi dan perasaanku yang lain bercampur jadi satu senang, bahagia, terkejut, gugup semuanya menyatu “Bagai mendapat durian runtuh,” bisa bertemu kembali dengan lelaki berkaca mata yang ku harapkan didepan warung tua.

Aku dan lelaki berkaca mata itu pun saling bertukar nama ...
Arul itulah nama lelaki berkaca mata yang selama ini ku harap bisa ku temui lagi. Aku dan Arul saling melempar kata, percakapan ku dengannya pun menjadi semakin seru. Tersadar dengan percakapan tentang masa sekolah, Arul ternyata seniorku waktu di SMP. Arul telah banyak berubah sampai aku tak mengenalinya, Aku dan Arul pun mulai akrab. Tak hanya bertukar nama, aku dan Arul juga saling memberikan nomor ponsel.
Aku dan Arul yang sangat menikmati percakapan itu, tak menyadari langit sudah berhenti menangis.

Angin yang menyapa tubuhku memberi tahu, hujan telah berhenti ...
Aku dan Arul memutuskan untuk pulang. Percakapan aku dan Arul tak berhenti sampai disitu, nomor ponsel yang saling kami berikan dimanfaatkan dengan baik oleh ku dan juga Arul untuk lebih saling mengenal ...
Tempat bertemu ku dan Arul pertama kali "Depan warung tua" pun menjadi tempat wajib kami untuk bertatap muka.

Setahun berlalu aku dan Arul yang masih sama-sama jomblo merasa saling cocok satu sama lain, Arul menyatakan cintanya kepada ku didepan warung tua dan kami pun menjadi pusat perhatian dari semua pengunjung diwarung tua. Aku yang terpaku sekaligus tersipu malu, menyakinkan hatiku dan aku memberikan jawaban "Iya" untuknya ...

Sejak saat itu aku dan Arul menjadi sepasang kekasih. Berbahagia, selalu bersama saat suka, senang maupun duka, saling mengerti, saling jujur, Arul yang lebih dewasa dibanding aku sangat cerdas aku pun banyak belajar dari nya, dan kami selalu bertatap muka berdua di depan warung tua. Ku kenalkan Arul dengan keluarga dan teman-temanku, mereka menyetujuinya. Begitupun dengan Arul yang memperkenalkan aku dengan keluarga dan teman-temannya semua sangat menyetujui hubungan ku dengan Arul.

Lama berselang aku dan Arul semakin menyempurnakan hubungan kami.
Sampai pada saat itu, Arul meminta ku datang untuk menemuinya didepan warung tua dan aku menyetujuinya, tak seperti biasa hati ku berkata sebaliknya. Entah mengapa ?!
Arul tak kunjung datang menjemputku dirumah pada saat itu, aku pun memutuskan untuk pergi kewarung tua sendirian ...

Aku yang sampai lebih dulu, telah menggunggu lama didepan warung tua untuk bertemu dengan Arul, namun untuk pertama kalinya Arul tak datang dan mengingkari janjinya untuk bertemu dengan ku. Aku berusaha mendatangkan suaranya melalui ponselku namun tak berhasil, aku yang seharusnya meminta penjelasan terlebih dulu kepada Arul namun aku hiraukannya, aku dirangkul dengan amarah yang mengebu-ngebu namun tetap menunggunya didepan warung tua.

Tak lama ku menunggu, kabar mengejutkan datang dari ponsel ku ...
Suara itu mengabarkan Arul mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, kerusakan parah pada mesin motor yang menjadi penyebabnya dan dia tak bisa diselamatkan.
Begitu rapuhnya aku saat mendengarnya, langit pun ikut menangis mendengar kabar itu ...
Aku yang dibayangi rasa tak percaya hanya bisa menangis. Tak pernah terbayangkan oleh ku semua ini terjadi.

Aku yang bertemu dengan Arul didepan warung tua untuk pertama kali nya, aku dan Arul yang menjadi kekasih didepan warung tua, dan didepan warung tua juga lah aku harus mendengar kejadian yang membuat Arul pergi dari ku untuk selamanya, betapa sakit teriris hati. Aku mendatangi rumahnya, melihat Arul terbaring kaku tak bernyawa, ku coba sekuat tenaga untuk tidak menangis namun aku gagal, air mata ku pecah membasahi pipi.

Rasa penyesalan yang amat sangat tumbuh dalam hatiku "Andai aku tak menyetujui pinta nya saat itu, untuk bertemu. Andai aku mengikuti kata hatiku untuk tak bertemu dengan nya, mungkin semua ini takkan terjadi pada Arul, mungkin Arul masih tetap disini bersama ku, menemani ku, dan Arul tak harus menjadi kenangan untukku."

Aku terpuruk, hari-hariku terasa seperti neraka tanpa Arul disampingku, aku hanya bisa memandangi depan warung tua berharap mimpi buruk ini usai dan Arul ada disana menungguku …
Namun aku sadar, Arul tak menginginkan aku yang seperti ini, aku pun mulai mencoba bangkit. Semua sudah terjadi, ini memang kenyataan yang harus aku terima dengan ikhlas, Arul sudah pergi dari ku, pergi dari dunia ini untuk selamanya tapi dia meninggalkan sejuta kenangan yang berharga untukku.

Terima kasih sayang …
Kau menyinari hariku dengan kehangatan mu, menuntun ku saat gelap, menemani ku dalam sepiku, menjadi penyemangatku saat aku terjatuh, menjadi bagian terindah dalam hidupku walau tak selamanya kau bersamaku. Maafkan aku yang hanya selalu berpangku tangan dengan mu, maafkan semua kecerobohan dan sikapku selama aku bersama dengan mu.
Terima kasih Arul telah memberiku semua kenangan indah itu, ku tahu kau akan selalu menjagaku walau ragamu sudah tak bersamaku, jujur ku tak sanggup kehilangan mu.
Sekarang aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan jika aku pun menghadap-Nya kelak, ijinkan aku bersama dengan mu untuk menempati surga-Nya yang indah.

Selamat jalan Arul, kekasih ku …
Kenangan bersama mu menjadi hal terindah yang takkan ku lupa ...


Dua tahun berlalu sejak kepergian Arul, aku yang sudah menjadi sarjana telah berhasil menggapai suksesku. Aku yang tak pernah lagi datang ke warung tua, merasa ingin kesana. Ku putus kan untuk pergi ...
Namun yang ku dapati disana bukanlah depan warung tua yang dulu menjadi tempatku dan Arul bertemu, bukan juga warung tua yang dulu ku singgahi dengan teman-teman dan juga Arul, melainkan sudah menjadi tumpukan bata yang beserakan akibat penggusuran.

Warung tuaku, tempatku menghabiskan hari indahku dimasa-masa dulu kini rata dengan tanah. Akan ku simpan kenanganku dengan teman-teman, juga dengan Arul didepan warung tua dan akan ku biarkan kenangan itu selalu melekat dihatiku untuk selamanya ...








 Sepenggal Kisah dari Bapak “Penjual Telur Asin”

Begitu hebat dalam mengarungi hidup, seorang Bapak penjual telur asin keliling. Pak Karsim beliau lah orangnya, sebagai tulang punggung keluarga yang memiliki tiga orang anak dan masih membutuhkan banyak biaya untuk bersekolah, serta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, seakan tidak mengenal kata lelah dan menyerah mengayuh sepeda, berkeliling setiap malam menjajakan dagangannya dari satu komplek ke komplek lain demi mencari rupiah agar beliau bisa menghidupi istri dan ketiga anaknya. 

Sebelum Pak Karsim melakukan aktifitasnya untuk berjualan dari komplek ke komplek, dibantu istrinya, beliau mempersiapkan telur asin yang akan dijajakannya berkeliling dan setelah semuanya selesai, baru lah Pak Karsim beranjak dari rumahnya pukul 16.00 WIB dengan mengayuh sepeda sebagai alat transportasinya. Dengan doa dan usaha yang dilakukan besar harapan Pak Karsim dan istrinya agar telur asin yang dijajakan berkeliling laku habis terjual, mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah setiap harinya demi kelangsungan hidup dan masa depan ketiga anaknya.

Menjadi pedagang telur asin bukanlah impiannya. Hanya mendapatkan untung dan laba untuk sekedar penyambung hidup. Impian yang ingin dicapai Pak Karsim sesungguhnya adalah memiliki rumah sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri kemudian hidup sejahtera bersama anak-anaknya, dan bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana kelak, agar tak bernasib sama seperti dirinya sekarang.

Dengan kondisinya yang serba kekurangan Pak Karsim tak lantas menyerah pada takdir, beliau berusaha untuk memberikan kehidupan yang layak bagi istri dan ketiga anaknya, walaupun harus berletih-letih demi orang terkasih beliau rela berletih setiap malam dengan mengayuh sepeda menjajakan telur asin dagangannya.
Menurut Pak Karsim, kehidupan haruslah dijalanin dengan penuh kesabaran dan berusaha keras. "Prinsip mandiri dan tidak menyusahkan orang lain senantiasa tertanam dalam hidupnya. Lebih baik bekerja keras selagi masih kuat dari pada meminta-minta di jalan," katanya.

Keuletan dan kegigihan Pak Karsim patut dijadikan contoh, meskipun berat kehidupan yang beliau jalani, namun sikapnya yang mandiri dan jiwa kewirausahaanya pantas menjadi pelajaran yang berharga. Apalagi ditengah semakin beratnya kehidupan menuntut setiap individu mempunyai sikap yang mandiri dan jiwa kewirausahaan, yaitu suatu sikap yang tidak mengandalkan belas kasih orang serta mau berusaha sendiri.

Pak Karsim, seorang Bapak "Penjual Telur Asin" tak mengenal kata menyerah, memberikan banyak pelajaran dan hikmah yang dapat dijadikan motivasi dalam mengarungi hidup, bahwa sesulit apapun kehidupan ini berusaha lah sekuat yang kita mampu tanpa harus berpangku tangan dengan orang lain dan meminta belas kasihan.