Di Depan Warung Tua
Matahari pagi
mendatangkan indahnya hari ini, aku pun telah bersiap menyambut hari ini
dengan senyuman untuk melangkah menuju kampus, berjumpa dengan temanku dan
menggapai suksesku kelak ...
Sinar matahari menghangatkan
tubuhku dan mengantarkan aku berangkat menuju tempatku menimba ilmu. Aku telah
sampai, berjumpa dengan teman-temanku, penyemangatku, Untuk aku menggapai masa
depanku.
Tak lama
berselang, waktu ku dikampus telah habis, aku yang merasa lapar mendahului
teman-temanku menuju "Warung tua", itu sebutan yang aku dan
teman-temanku buat untuk tempat makan dekat kampus. Disanalah biasanya aku dan
teman-teman singgah untuk memuaskan rasa lapar yang melanda dan sekedar
bercanda, tertawa sudah menjadi runtin bagi aku dan teman-teman saat berada
disana. Selesai memuaskan diri dari rasa lapar, bersenda gurau, tertawa ria
yang menggelitik tubuhku, aku pun menuju kedepan warung tua.
Saat aku
menikmati sapaan angin yang menyejukkan, sesosok lelaki berkaca mata, tampan
nan gagah menyambutku dengan senyuman yang mengindahkanku didepan warung tua,
aku yang terpanah hanya bisa terpaku melihatnya tanpa membalas senyumnya.
Tersadar dengan tamparan suara dari temanku yang memanggil namaku berulang
kali, dan aku langsung bergegas pulang.
Harap ku ... Bisa bertemu lagi
dengan nya, lalu lelaki berkaca mata itu memberikan tangannya kepada ku untuk
memintaku berkenalan dengan nya.
Hari esok pun
tiba, sinar matahari masih setia menghampiriku dengan hangatnya dan
mengantarkan ku menuju tempat peraduan ku mencari ilmu ...
Saat pulang dari kampus kini
menjadi hal menyenangkan untukku, aku yang dirasukin rasa bahagia langsung
membawa diriku menuju warung tua bukan untuk memuaskan rasa lapar, melainkan
hanya sekedar untuk bertemu lagi dengan lelaki berkaca mata didepan warung tua
dan berkenalan dengan nya, itu harap ku.
Lama ku
menunggu, angin dingin pun mulai menerpa tubuhku namun lelaki berkaca mata itu
tak datang dalam penglihatan ku.
Aku yang selalu berharap bertemu
lagi dengan lelaki berkaca mata itu didepan warung tua mulai mengisi kepalaku
dengan pikiran kecewaku ''Apakah kemarin adalah pertemuan pertama dan terakhir
ku dengan nya ?.''
Tak bisa menyangkal, aku sangat
ingin lelaki berkaca mata itu memberikan tangannya untukku didepan warung tua
saat bertemu kembali, namun mungkin itu hanya angan yang melintas dalam khayalku
...
Lama berlalu,
aku pun mulai bisa melupakan harapanku untuk bertemu dengannya dan menjalani
hari seperti biasa. Langit sedang tak bersahabat dengan ku siang itu, hujan
deras mengguyur ku saat aku berada didepan warung tua, aku yang ditinggal
sendiri didepan warung tua oleh teman-temanku, mulai merasa bosan menunggu
hujan yang tak kunjung berhenti ...
Aku yang hanya bermain dengan ponselku
dan tak menyadari seseorang yang datang lalu duduk disebelah ku. Seseorang itu
mulai melontarkan perkataan agar aku dengannya saling bercakap, aku yang masih
belum mengetahui siapa yang sedang bercakap dengan ku, tanpa ragu aku menolehkan
pandanganku kearahnya.
Sungguh tak ku
duga dan aku terkejut sangat senang ketika ku tahu seseorang yang bercakap
dengan ku sejak tadi adalah lelaki berkaca mata yang selama ini ku harap bisa
bertemu kembali. Perasaan bosan ku pergi dan perasaanku yang lain bercampur
jadi satu senang, bahagia, terkejut, gugup semuanya menyatu “Bagai mendapat durian runtuh,” bisa
bertemu kembali dengan lelaki berkaca mata yang ku harapkan didepan warung tua.
Aku dan lelaki
berkaca mata itu pun saling bertukar nama ...
Arul itulah nama lelaki berkaca
mata yang selama ini ku harap bisa ku temui lagi. Aku dan Arul saling melempar
kata, percakapan ku dengannya pun menjadi semakin seru. Tersadar dengan
percakapan tentang masa sekolah, Arul ternyata seniorku waktu di SMP. Arul telah
banyak berubah sampai aku tak mengenalinya, Aku dan Arul pun mulai akrab. Tak
hanya bertukar nama, aku dan Arul juga saling memberikan nomor ponsel.
Aku dan Arul yang sangat
menikmati percakapan itu, tak menyadari langit sudah berhenti menangis.
Angin yang
menyapa tubuhku memberi tahu, hujan telah berhenti ...
Aku dan Arul memutuskan untuk
pulang. Percakapan aku dan Arul tak berhenti sampai disitu, nomor ponsel yang
saling kami berikan dimanfaatkan dengan baik oleh ku dan juga Arul untuk lebih
saling mengenal ...
Tempat bertemu ku dan Arul pertama
kali "Depan warung tua" pun menjadi tempat wajib kami untuk bertatap
muka.
Setahun berlalu
aku dan Arul yang masih sama-sama jomblo merasa
saling cocok satu sama lain, Arul menyatakan cintanya kepada ku didepan warung
tua dan kami pun menjadi pusat perhatian dari semua pengunjung diwarung tua.
Aku yang terpaku sekaligus tersipu malu, menyakinkan hatiku dan aku memberikan
jawaban "Iya" untuknya ...
Sejak saat itu aku
dan Arul menjadi sepasang kekasih. Berbahagia, selalu bersama saat suka, senang
maupun duka, saling mengerti, saling jujur, Arul yang lebih dewasa dibanding
aku sangat cerdas aku pun banyak belajar dari nya, dan kami selalu bertatap
muka berdua di depan warung tua. Ku kenalkan Arul dengan keluarga dan
teman-temanku, mereka menyetujuinya. Begitupun dengan Arul yang memperkenalkan
aku dengan keluarga dan teman-temannya semua sangat menyetujui hubungan ku
dengan Arul.
Lama berselang aku
dan Arul semakin menyempurnakan hubungan kami.
Sampai pada saat itu, Arul
meminta ku datang untuk menemuinya didepan warung tua dan aku menyetujuinya, tak
seperti biasa hati ku berkata sebaliknya. Entah mengapa ?!
Arul tak kunjung datang menjemputku
dirumah pada saat itu, aku pun memutuskan untuk pergi kewarung tua sendirian
...
Aku yang sampai
lebih dulu, telah menggunggu lama didepan warung tua untuk bertemu dengan Arul,
namun untuk pertama kalinya Arul tak datang dan mengingkari janjinya untuk
bertemu dengan ku. Aku berusaha mendatangkan suaranya melalui ponselku namun
tak berhasil, aku yang seharusnya meminta penjelasan terlebih dulu kepada Arul
namun aku hiraukannya, aku dirangkul dengan amarah yang mengebu-ngebu namun
tetap menunggunya didepan warung tua.
Tak lama ku
menunggu, kabar mengejutkan datang dari ponsel ku ...
Suara itu mengabarkan Arul
mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, kerusakan parah pada mesin motor
yang menjadi penyebabnya dan dia tak bisa diselamatkan.
Begitu rapuhnya aku saat
mendengarnya, langit pun ikut menangis mendengar kabar itu ...
Aku yang dibayangi rasa tak percaya
hanya bisa menangis. Tak pernah terbayangkan oleh ku semua ini terjadi.
Aku yang bertemu
dengan Arul didepan warung tua untuk pertama kali nya, aku dan Arul yang
menjadi kekasih didepan warung tua, dan didepan warung tua juga lah aku harus
mendengar kejadian yang membuat Arul pergi dari ku untuk selamanya, betapa
sakit teriris hati. Aku mendatangi rumahnya, melihat Arul terbaring kaku tak
bernyawa, ku coba sekuat tenaga untuk tidak menangis namun aku gagal, air mata
ku pecah membasahi pipi.
Rasa penyesalan yang
amat sangat tumbuh dalam hatiku "Andai aku tak menyetujui pinta nya saat itu,
untuk bertemu. Andai aku mengikuti kata hatiku untuk tak bertemu dengan nya, mungkin
semua ini takkan terjadi pada Arul, mungkin Arul masih tetap disini bersama ku,
menemani ku, dan Arul tak harus menjadi kenangan untukku."
Aku terpuruk,
hari-hariku terasa seperti neraka tanpa Arul disampingku, aku hanya bisa
memandangi depan warung tua berharap mimpi buruk ini usai dan Arul ada disana
menungguku …
Namun aku sadar, Arul tak
menginginkan aku yang seperti ini, aku pun mulai mencoba bangkit. Semua sudah
terjadi, ini memang kenyataan yang harus aku terima dengan ikhlas, Arul sudah
pergi dari ku, pergi dari dunia ini untuk selamanya tapi dia meninggalkan
sejuta kenangan yang berharga untukku.
Terima kasih
sayang …
Kau menyinari hariku dengan
kehangatan mu, menuntun ku saat gelap, menemani ku dalam sepiku, menjadi
penyemangatku saat aku terjatuh, menjadi bagian terindah dalam hidupku walau
tak selamanya kau bersamaku. Maafkan aku yang hanya selalu berpangku tangan
dengan mu, maafkan semua kecerobohan dan sikapku selama aku bersama dengan mu.
Terima kasih Arul telah memberiku
semua kenangan indah itu, ku tahu kau akan selalu menjagaku walau ragamu sudah
tak bersamaku, jujur ku tak sanggup kehilangan mu.
Sekarang aku hanya bisa berdoa
kepada Tuhan jika aku pun menghadap-Nya kelak, ijinkan aku bersama dengan mu
untuk menempati surga-Nya yang indah.
Selamat jalan
Arul, kekasih ku …
Kenangan bersama mu menjadi hal
terindah yang takkan ku lupa ...
Dua tahun
berlalu sejak kepergian Arul, aku yang sudah menjadi sarjana telah berhasil menggapai
suksesku. Aku yang tak pernah lagi datang ke warung tua, merasa ingin kesana.
Ku putus kan untuk pergi ...
Namun yang ku dapati disana bukanlah
depan warung tua yang dulu menjadi tempatku dan Arul bertemu, bukan juga warung
tua yang dulu ku singgahi dengan teman-teman dan juga Arul, melainkan sudah
menjadi tumpukan bata yang beserakan akibat penggusuran.
Warung tuaku,
tempatku menghabiskan hari indahku dimasa-masa dulu kini rata dengan tanah.
Akan ku simpan kenanganku dengan teman-teman, juga dengan Arul didepan warung
tua dan akan ku biarkan kenangan itu selalu melekat dihatiku untuk selamanya
...
Sepenggal
Kisah dari Bapak “Penjual Telur Asin”
Begitu
hebat dalam mengarungi hidup, seorang Bapak penjual telur asin keliling. Pak
Karsim beliau lah orangnya, sebagai tulang punggung keluarga yang memiliki tiga
orang anak dan masih membutuhkan banyak biaya untuk bersekolah, serta untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, seakan tidak mengenal kata
lelah dan menyerah mengayuh sepeda, berkeliling setiap malam menjajakan dagangannya
dari satu komplek ke komplek lain demi mencari rupiah agar beliau bisa
menghidupi istri dan ketiga anaknya.
Sebelum
Pak Karsim melakukan aktifitasnya untuk berjualan dari komplek ke komplek, dibantu
istrinya, beliau mempersiapkan telur asin yang akan dijajakannya berkeliling
dan setelah semuanya selesai, baru lah Pak Karsim beranjak dari rumahnya pukul
16.00 WIB dengan mengayuh sepeda sebagai alat transportasinya. Dengan doa dan
usaha yang dilakukan besar harapan Pak Karsim dan istrinya agar telur asin yang
dijajakan berkeliling laku habis terjual, mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah
setiap harinya demi kelangsungan hidup dan masa depan ketiga anaknya.
Menjadi
pedagang telur asin bukanlah impiannya. Hanya mendapatkan untung dan laba untuk
sekedar penyambung hidup. Impian yang ingin dicapai Pak Karsim sesungguhnya
adalah memiliki rumah sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri kemudian hidup
sejahtera bersama anak-anaknya, dan bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga
menjadi sarjana kelak, agar tak bernasib
sama seperti dirinya sekarang.
Dengan
kondisinya yang serba kekurangan Pak Karsim tak
lantas menyerah pada takdir, beliau berusaha untuk memberikan kehidupan yang
layak bagi istri dan ketiga anaknya, walaupun harus berletih-letih demi orang
terkasih beliau rela berletih setiap malam dengan mengayuh sepeda menjajakan
telur asin dagangannya.
Menurut
Pak Karsim, kehidupan haruslah dijalanin dengan penuh kesabaran dan berusaha
keras. "Prinsip mandiri dan tidak menyusahkan orang lain senantiasa
tertanam dalam hidupnya. Lebih baik bekerja keras selagi masih kuat dari pada
meminta-minta di jalan," katanya.
Keuletan
dan kegigihan Pak Karsim patut dijadikan contoh, meskipun berat kehidupan yang
beliau jalani, namun sikapnya yang mandiri dan jiwa kewirausahaanya pantas
menjadi pelajaran yang berharga. Apalagi ditengah semakin beratnya kehidupan
menuntut setiap individu mempunyai sikap yang mandiri dan jiwa kewirausahaan,
yaitu suatu sikap yang tidak mengandalkan belas kasih orang serta mau berusaha
sendiri.
Pak
Karsim, seorang Bapak "Penjual Telur Asin" tak mengenal kata menyerah, memberikan banyak pelajaran dan hikmah
yang dapat dijadikan motivasi dalam mengarungi hidup, bahwa sesulit apapun
kehidupan ini berusaha lah sekuat yang kita mampu tanpa harus berpangku tangan
dengan orang lain dan meminta belas kasihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar